SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA....

Senang sekali anda mengunjungi blog pribadi saya...
Blog ini saya buat dengan maksud untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitian, materi pengajaran atau yang terkait dengan aktivitas Prodi tempat saya mengabdi...

Selasa, 31 Agustus 2010

Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Pisang


W. Rumahlewang, SP.MP

(Jurusan BDP, Faperta – Unpatti)

Sejak bayi kita sudah menikmati lezatnya buah pisang. Begitu terkenalnya buah ini, maka setiap acara pesta tidak lengkap jika tidak menyajikan pisang sebagai makanan penutup. Tanaman pisang (Musa paradisiaca L.) sebagai salah satu jenis tanaman hortikultura mempunyai arti penting bagi peningkatan gizi masyarakat karena buahnya merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat, sering dijadikan buah meja, sale pisang dan tepung pisang serta kulitnya sebagai pembungkus bermacam makanan trandisional Indonesia. Memakan buah pisang juga merupakan pengobatan alami berbagai penyakit.

Budidaya tanaman pisang tak lepas dari berbagai kendala, terutama serangan hama dan panyakit yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan hasil baik kualitas maupun kuantitasnya. Berikut ini akan dipaparkan penyakit-penyakit penting pada tanaman pisang dan cara pengendaliannya yang diharapkan dapat sebagai bahan informasi bagi petani di lapang.

1. Layu Fusarium (Fusarium oxysporium f.sp cubense)

Gejala :

Pada tepi-tepi daun paling bawah berwarna kuning tua lalu menjadi coklat dan mengering. Tangkai daun patah di sekeliling batang palsu dan kadang-kadang lapisan luar batang palsu terbelah dari permukaan tanah.

Gejala khas adalah gejala dalam. Jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam menuju semua arah, dari batang ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai.

Pengendalian :

Tidak menanam jenis yang rentan di lahan yang terinfestasi patogen dan hanya menanam bahan tanaman/anakan yang sehat.

Tanaman yang sakit beserta tanah di sekelilingnya dibongkar dan dikeluarkan dari kebun.

Memelihara tanaman dengan hati-hati untuk mengurangi terjadinya luka-luka pada akar dan mengendalikan nematoda dengan nematisida.

2. Bercak Daun Cercospora (Mycosphaerella musicola)

Gejala :

Gejala pertama tampak jelas pada daun ke-3 dan ke-4 dari pucuk sebagai bintik-bintik memanjang, berwarna kuning pucat dengan ukuran panjang 1-2 mm atau lebih, arahnya sejajar dengan tulang daun. Sebagian dari bintik-bintik tersebut berkembang menjadi bercak berwarna coklat tua sampai hitam, jorong atau bulat panjang, yang panjangnya 1 cm atau lebih, lebarnya kurang dari sepertiga panjangnya.

Pada daun yang lebih tua pusat becaknya mengering, berwarna kelabu mudah dengan tepinya berwarna coklat tua dan dikelilingi oleh halo berwarna kuning cerah.

Pengendalian :

Tidak mengusahakan pisang secara komersial di lahan miskin. Kesuburan tanah harus dipertahankan dengan pemupukan yang tepat.

Untuk mengurangi sumber infeksi daun-daun mati di sekeliling pohon dipotong dan dibakar.

Jika dirasa perlu tanaman dapat disemprot dengan mankozeb (Dithane M-45) atau propineb (Antracol).

3. Bercak Daun Cordana (Cordana musae)

Gejala :

Mula-mula timbul becak-becak jorong atau bulat telur, kadang berbentuk berlian, kemudian membesar dan berwarna coklat pucat, dengan tepi yang berwarna coklat kemerahan, dikelilingi halo berwarna kuning cerah.

Seringkali becak tampak bercincin-cincin, dan dapat terbentuk di sekeliling becak sigatoka. Becak dapat menjadi besar sekali, bahkan dikatakan bahwa panjangnya dapat mencapai 10 cm.

Bila yang terinfeksi tepi daun, becak dapat berbentuk sabit, yang kemudian dapat memanjang menjadi coreng berwarna coklat pucat, yang dapat meluas sampai ibu tulang daun.

Pengendalian :

Tidak menanam pisang di bawah naungan yang lebat dan tidak menanam pisang terlalu rapat.

Jika diperlukan becak daun Cordana dapat dikendalikan dengan fungisida seperti yang dipakai untuk becak daun Cercospora.

4. Burik (Cladosporium musae, Periconiella musae, Veroneae musae, dan Phaeoramularia musae)

Gejala :

Gejalanya berupa becak-becak kecil pada daun, berwarna coklat tua sampai hitam, yang mengumpul dengan jarak yang hampir sama. Masing-masing becak adalah sebesar kepala jarum. Pada daun tua becak dapat bersatu membentuk becak yang besar.

Burik lebih jelas terlihat pada sisi atas daun.

Pengendalian :

Pada umumnya penyakit burik tidak perlu dikendalikan. Namun jika nanti terasa merugikan, perlu diusahakan untuk mengurangi peneduhan (karena pohon-pohon) dan penanaman jangan terlalu rapat.

5. Antraknosa (Colletotrichum musae)

Gejala :

Mula-mula terjadi becak-becak klorosis berwarna putih kekuningan, yang bagian tengahnya berwarna coklat. Bercak berkembang memanjang, searah dengan tulang daun dan menyatu menjadi besar dan akhirnya daun mengering.

Pada buah terdapat bagian-bagian yang berubah dari hijau menjadi kuning, kemudian menjadi coklat tua atau hitam dengan tepi berwarna kuning. Pada permukaan kulit buah yang sudah berwarna hitam/membusuk timbul bintik-bintik merah kecoklatan yang terdiri dari kumpulan aservulus jamur tersebut. Buah yang sakit menjadi keras dan dapat menjadi kering dan berkeriput (mumifikasi).

Disimpanan, timbul becak-becak kecil berwarna coklat kehitaman dengan tepi kebasah-basahan pada buah. Becak-becak tersebut dapat membesar atau bersatu dan agak mengendap.

Pengendalian :

Tanaman pisang dibersihkan dari daun-daun mati dan sisa-sisa bunga.

Sehabis dipotong buah-buah segera diangkut ke ruang pemeraman atau ke gudang. Ruang pemeraman dan gudang dijaga kebersihannya.

Menangani buah dengan hati-hati agar tidak terjadi banyak luka.

Jika buah perlu dicuci, pencucian dilakukan dengan air mengalir dari sumber yang bersih dan Jika sekiranya diperlukan, setelah dipetik buah disemprot atau dicelup dengan cairan fungisida.

6. Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum)

Gejala :

Biasanya gejala pada tajuk (mahkota) baru tampak setelah timbulnya tandan buah. Mula-mula satu atau dua daun (nomor 3 atau 4 dari daun termuda) berubah warnanya tanpa menunjukkan perubahan-perubahan lain. Dari ibu tulang daun keluarlah garis kekuningan ke tepi daun. Keadaan ini dapat berlangsung lama sampai buah hampir menyelesaikan proses pemasakannya. Tetapi mendadak keadaannya menjadi kritis. Dalam jangka waktu satu minggu semua daun menguning dan dalam jangka waktu beberapa hari daun-daun tadi menjadi coklat.

Perubahan yang paling khas terjadi pada buah. Mula-mula berkas pembuluh berwarna kuning atau coklat. Perubahan ini meluas ke plasenta dan parenkim buah, bahkan juga ke berkas pembuluh kulit buah. Seluruh badan buah terserang menguning dan isinya terlarut sedikit demi sedikit. Ruang dalam buah terisi cairan seperti lendir berwarna merah kecoklatan.

Pengendalian :

Rumpun yang sakit dibongkar, dibersihkan dari sisa-sisa akar, dan tempat itu baru ditanami dengan pisang kembali 2 tahun kemudian.

Hanya memakai bibit yang diambil dari perdu yang benar-benar sehat.

Melakukan pemupukan dan pemeliharaan yang baik dan memelihara drainase kebun.

Untuk menghindarkan penularan, jika perlu parang didesinfestasi dengan mencelupkannya dalam larutan formalin 10% selama 10 menit.

7. Kerdil Pisang atau Bunchy top (Bunchy Top Virus)

Gejala :

Jika pangkal daun nomor 2 atau 3 dari tanaman yang dicurigai dilihat permukaan bawahnya dengan cahaya menembus, tampak adanya garis-garis hijau tua sempit yang terputus-putus dalam garis pendek atau titik seperti kode morse, terdapat diantara dan sejajar dengan tulang daun sekunder. Kadang-kadang tulang daun menjadi jernih. Sebagai gejala pertama terjadinya infeksi, pada cuaca yang sejuk tulang daun yang menjadi jernih tadi akan tampak lebih jelas.

Pada tingkat yang lebih jauh daun-daun muda lebih tegak, lebih pendek, lebih sempit dengan tangkai daun yang lebih pendek dari pada biasa, dan menguning sepanjang tepingya. Daun-daun rapuh dan bila dipatahkan akan patah dengan renyah. Tanaman terhambat pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset pada ujung batang palsu.

Pengendalian :

Jangan membawa tanaman pisang atau Heliconia keluar dari daerah yang terjangkit kerdil pisang.

Rumpun yang sakit dibongkar bersih dan dicincang menjadi potongan-potongan kecil. Hanya menanam bibit yang diambil dari rumpun yang benar sehat.

Menyemprot tanaman pisang dengan insektisida sistemik untuk memberantas Pentalonia, khusus di pembimbitan (jika ada).

»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 11 Agustus 2009

Perjalanan Ujung Pandan Ambon

Ini video beta ambil saat take off dari Bandara Hasanudin Makasar dan Landing di Bandara Pattimura Ambon, menggunakan camdic aja...
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 08 Agustus 2009

»»  Baca Selengkapnya...

International Seminar and The 20th National Congres Phytopatology Of Indonesian


Kunjungan ke Balitseral, Kab. Maros Ujung Pandang

Foto Bersama Prof. Sumardiyono, dan Ir. B. Leatemia, MP

Foto Bersama Prof. Siti Subandiyah
Foto Bersama Dosen Pertanian UNPATTI


»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 18 Desember 2008

PENYAKIT-PENYAKIT PENTING TANAMAN KUBIS

1. Akar Pekuk (Plasmodiophora brassicae Wor.)
Gejala :
  • Adanya bintil-bintil atau kelenjar yang tidak teratur yang selanjutnya bersatu menjadi bengkakan memanjang yang mirip batang (gada)
  • Rusaknya jaringan akar menyebabkan jaringan pengangkutan terganggu sehingga tanaman menjadi merana, daun-daunnya berwarna hijau kelabu, dan lebih cepat layu daripada daun yang biasa.
Pengendalian :
  • Mencegah masuknya P. brassicae ke daerah-daerah yang masih bebas.
  • Meningkatkan pH dengan pengapuran.
  • Mengobati tanah dengan fungisida.
2. Bercak Daun Alternaria (Alternaria brassicae) Sacc.
Gejala :
  • Pada daun terdapat becak-becak kecil berwarna kelabu gelap pada daun, yang meluas dengan cepat sehingga menjadi becak bulat mencapai diameter 1 cm.
  • Pada cuaca lembab tampak sebagai bulu-bulu halus kebiruan di pusat becak.
  • Didalam becak terdapat cincin-cincin sepusat.Pada tangkai, batang, dan polongan (buah) becak berbentuk garis.
  • Penyakit lebih banyak terdapat pada daun-daun tua. Jika pada daun terdapat banyak becak, daun akan cepat mati sehingga produksi akan terpengaruh
Pengendalian :
  • Perawatan biji dengan air panas bersuhu 50 oC selama 30 menit.
  • Pada petsai sering diperlukan penyemprotan dengan fungisida.
3. Penyakit Busuk Hitam [Xanthomonas campestris pv. campestris (Pamm.) Dye]
Gejala :
  • Mula-mula di tepi daun terdapat daerah-daerah yang berwarna kuning atau pucat, yang kemudian meluas ke bagian tengah. Didaerah ini tulang-tulang daun berwarna coklat tua atau hitam dan bisa masuk ke dalam batang.
  • Jaringgan helaian daun yang sakit mengering menjadi seperi selaput, dengan tulang-tulang daun berwarna hitam.
  • Umumnya penyakit mulai dari daun-daun bawah dan dapat menyebabkan gugurnya daun satu per satu.
Pengendalian :
  • Menanam benih yang sehat.
  • Pergiliran tanaman.
  • Tanaman dan daun sakit dipendam dalam tanah.
  • Sanitasi persemaian dan kebun, terutama dari kubis-kubis liar.
  • Menanam jenis-jenis yang tahan.
  • Menutup tanah dengan jerami untuk mengurangi penyakit.
4. Penyakit Busuk Basah [Erwinia caratovora pv. caratovora (Jones) Dye]
Gejala :
  • Gejala yang umum adalah busuk basah, berwarna coklat atau kehitaman, pada daun, batang dan umbi.
  • Pada bagian terinfeksi mula-mula terjadi becak kebasahan. Becak membesar dan mengendap (melekuk), bentuknya tidak teratur, berwarna coklat tua kehitaman.
  • Jika kelembaban tinggi, jaringan yang sakit tampak kebasahan, berwarna krem atau kecoklatan, dan tampak agak berbutir-butir halus.
  • Disekitar bagian yang sakit terjadi pembentukan pigmen coklat tua atau hitam.
Pengendalian :
  • Sanitasi
  • Jarak tanam tidak terlalu rapat
  • Menghindari terjadinya luka yang tidak perlu
  • Pengendalian pasca panen
5. Penyakit Kaki Hitam [Phoma lingam (Tode ex Fr.) Desm.]
Gejala :
  • Kanker memanjang pada pangkal batang, mula-mula berwarna coklat muda, kemudian mejadi kehitaman, yang sering dikelilingi oleh batas berwarna ungu.
  • Dibagian tengah luka terdapat titik-titik hitam yang terdiri dari piknidium jamur penyebab penyakit.
  • Kanker dapat meluas sehingga batang bergelang.
  • Bagian dalam batang busuk kering berwarna coklat.
  • Mula-mula terdapat becak warna pucat dengan batas kurang jelas yang menjadi becak bulat dengan warna kelabu ditengah.
  • Daun-daun yang layu biasanya tetap bergantung pada tanaman, sedangkan daun-daun yang masih segar sering mempunyai tepai berwarna kemerahan.
  • Pada tanaman penghasil benih, penyakit dapat timbul pada polongan (buah), dan biji yang terinfeksi menjadi keriput.
  • Perakaran yang sakit akan rusak sedikit demi sedikit sehingga tanaman menjadi layu dan kemudian mati.
Pengendalian :
  • Pemencaran penyakit ke daerah yang belum terjangkit harus dicegah.
  • Menanam benih yang sehat.
  • Sanitasi pertanaman
  • Tidak membuat persemaian di tanah yang mungkin mengandung penyebab penyakit.
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 18 April 2008

Penyakit Penting Tanaman Sayuran

I. Penyakit-Penyakit Bawang

1. Bercak Ungu [Alternaria pori (Ell.)Cif]

Gejala

  • Terjadi becak kecil berwarna putih sampai kelabu dan melekuk. Jika membesar becak tampak bercincin dan warna agak keunguan.
  • ­Tepinya agak keunguan dan dikelilingi oleh zone berwarna kuning, yang meluas agak jauh ke atas dan ke bawah becak.
  • ­Pada cuaca lembab permukaan becak tertutup konidiofor dan konidium jamur yang berwarna hitam.
  • ­Ujung daun yang sakit mengering.
  • ­Becak banyak terdapat pada daun tua.

Penyebab Penyakit : Alternaria porri (Ell.)Cif

  • Dulu sering disebut Macrosporium porri Ell.

Daur Hidup

  • ­Patogen bertahan dari musim ke musim pada sisa-sisa tanaman dan sebagai konidium.
  • ­Jamur membentuk kondium pada malam hari.
  • ­Infeksi terjadi melalui mulut kulit dan luka.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­Tanaman yang sehat kurang mendapat gangguan.

Pengendalian :

  1. Menanam bawang di lahan berdrainase baik.
  2. Pergiliran tanaman (rotasi)
  3. Penyemprotan fungisida tembaga, ferbam, zineb dan nabam yang ditambah sulfat seng.

2. Bercak Daun Cercospora (Cercospora duddiae Welles.)

Gejala

  • Mula-mula terjadi becak klorosis, bulat, berwarna kuning, berdiameter 3-5 mm.
  • ­ Becak paling banyak terdapat pada ujung sebelah luar daun.
  • ­Becak-becak sering berkumpul pada ujung daun, yang pada sebelah pangkalnya terdapat banyak becak yang terpisah, sehingga daun tampak belang.
  • ­Ujung daun mengering dan menjadi coklat kelabu.
  • ­Becak-becak yang terpisah mempunyai pusat berwarna coklat yang terdiri dair jaringan mati.
  • ­Pada waktu lembab di bagian daun yang mati terdapat bintik-bintik yang terdiri dari berkas konidiofor dengan konidium jamur.
  • ­Kadang-kadang bintik-bintik ini juga terjadi pada jaringan yang klorosis.

Penyebab Penyakit : Cercospora duddiae Welles.

  • ­Mempunyai konidium lurus atau agak bengkok, pangkalnya tumpul, meruncing ke ujung, hialin, mempunyai banyak sekat, berukuran 48-99 x 6-8 µm.
  • ­Konidiofor berwarna gelap, bersekat, berukuran 47-168 x 5-9 µm.

Pengendalian :

  1. Menanam bawang di lahan berdrainase baik.
  2. Pergiliran tanaman (rotasi)
  3. Penyemprotan fungisida tembaga, ferbam, zineb dan nabam yang ditambah sulfat seng.

3. Busuk daun (Perenospora destructor (Berk.)Casp.)

  • Busuk daun (downy mildew), sering disebut “embun bulu” atau “embun tepung” atau “penyakit tepung palsu”

Gejala

  • ­Kira-kira pada saat tanaman membentuk umbi lapis.
  • ­ Di dekat ujung daun timbul becak hijau pucat
  • ­Pada waktu cuaca lembab pada permukaan daun berkembang kapang yang berwarna putih lembayung atau ungu.
  • ­Daun segera menguning, layu dan mengering.
  • ­ Daun yang mati berwarna putih diliputi oleh kapang hitam.

Penyebab Penyakit : Perenospora destructor (Berk.)Casp.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­Penyakit terutama berkembang pada musim hujan bila udara sangat lembab dan suhu malam hari rendah.

Pengendalian :

  1. Pemakaian benih yang sehat
  2. Jika penyakit banyak, setelah panen daun-daun dibakar. Tanah diberakan selama 3 tahun
  3. Penyemprotan fungsida

II. Penyakit-Penyakit Tanaman Solanaceae (Cabai, Terung dan Tomat)

A. Penyakit-Penyakit Cabai dan Terung

1. Becak Daun Cabai (Cercospora capsici Heals et Wolf.)

Gejala

  • ­Pada daun terdapat becak-becak bulat, kecil, kebasah-basahan. Bercak meluas hingga Ø 0,5 cm atau lebih, pusatnya berwarna pucat sampai putih dengan tepi yang lebih tua warnanya.
  • ­ Becak-becak yang tua berlubang.
  • Pada paprika tampak bahwa becak mempunyai jalur-jalur sepusat, yang tampak lebih jelas dilihat dari permukaan atas daun.
  • Apabila terdapat banyak becak, daun cepat menguning dan gugur, atau langsung gugur tanpa menguning lebih dulu.

Penyebab Penyakit : Cercospora capsici Heald et Wolf.

  • Konodium berbentuk gada panjang, bersekat 3-12, dengan ukuran 60-200 x 3-5 µm.
  • Konidiofor pendek, bersekat 1-3.

Daur Hidup

  • ­C. capsici terbawa biji dan mungkin bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit selama satu musim.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • Kurang terdapat pada musim kemarau dan di lahan yang berdrainase baik.
  • ­Penyakit dapat timbul di persemaian, meskipun cenderung lebih banyak pada tanaman tua.
  • ­Penyakit dibantu oleh cuaca yang panas dan lembab.

Pengendalian :

  • Penyemprotan fungisida tembaga, benlate (benomyl) dan topsin.

2. Antraknosa Cabai (Gloeosporium piperatum Ell. Et Ev dan Colletotrichum capsici (Syd.)Butl. Et Bisby

Gejala

­ Gloeosporium piperatum
  • Dapat menyerang buah yang masih hijau dan menyebabkan mati ujung (die back)
  • Mula-mula berupa bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk, pada buah yang masih hijau atau yang sudah masak.
  • Bintik-bintik ini tepinya berwarna kuning, membesar dan memanjang. Bagian tengahnya menjadi semakin gelap.
  • Dalam cuaca lembab jamur membentuk badan buah dalam lingkaran-lingkaran sepusat, yang membentuk masa spora (konidium) berwarna merah jambu.
  • Penyakit masih berkembang terus pada waktu buah cabai disimpan atau diangkut.
Colletotrichum capsici
  • Mula-mula membentuk becak coklat kehitaman, yang meluas menjadi busuk lunak.
  • Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok seta dan konidium jamur.
  • Serangan berat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput).
  • Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti jerami.
  • Jika cuaca kering jamur hanya membentuk becak kecil yang tidak meluas. Tetapi kelak setelah buah dipetik, karena kelembaban udara yang tinggi selama disimpan dan diangkut, jamur akan berkembang dengan cepat.

Penyebab Penyakit :

­ Gloeosporium piperatum Ell. Et Ev.
  • Aservulus dalam sel-sel epidermal atau subepidermal terbuka, bulat atau panjang, berwarna kuning jingga atau merah jambu.
  • Konidium bersel satu, 15,5-18,6 x 5,4-6,2 µm, hialin, berbentuk batang dengan ujung membulat.
­ Colletotrichum capsici (Syd.)Butl. Et Bisb.
  • Mempunyai banyak aservulus, tersebar, di bawah kutikula atau pada permukaan, garis tenganya samapi 100 µm, hitam dengan banyak seta.
  • Seta coklat tua, bersekat, kaku, meruncing ke atas, 75-100 x 2-6,2 µm.
  • Konidium hialin, berbentuk tabung (selindris), 18,6-25,0 x 3,5-5,3 µm, ujung-ujungnya tumpul, atau bengkok seperti sabit.
  • Jamur membentuk banyak sklerotium dalam jaringan tanaman sakit atau dalam medium biakan.

Daur Hidup

  • Bertahan pada biji yang sakit.
  • ­ Bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin.
  • ­C. capsici hanya terjadi melalui luka-luka.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­ Kurang terdapat pada musim kemarau, di lahan yang mempunyai drainase baik dan gulmanya terkendali dengan baik.
  • ­ Perkembangan jamur ini paling baik pada suhu 20oC, sedangkan sporulasi G. piperatum pada suhu 23oC dan C. capsici pada suhu 30oC.
  • ­Buah yang mudah cenderung lebih rentan daripada yang setengah masak.

Pengendalian :

  1. Tidak menanam biji yang terinfeksi ---- Biji terinfeksi diobat dengan thiram 0,2%.
  2. Funfisida, antara lain Antracol, velimek, Dithane M-45, dan lain-lain.

3. Busuk Buah (Phytophthora sp.)

Gejala

  • ­Pada buah cabai mula-mula becak kecil kebasah-basahan, berwarna hijau suram, yang meluas dengan cepat sehingga meliputi seluruh buah.
  • ­Buah mengering dengan cepat dan menjadi mummi.
  • Biji terserang, menjadi coklat dan keriput.

Penyebab Penyakit : Phytophthora capsici Leonian

  • Sporangiofor bialin, bercabang tidak menentu, bentuknya mirip dengan hifa biasa.
  • Bentuk dan ukuran sporangium sangat bervariasi, bulat sampai jorong memanjang, hialin, dengan 1-3 buah papil yang menonjol, 35-105 x 21-56 µm. Biasanya berkecambah membentuk zoospora, atau dalam keadaan yang kurang menguntungkan membentuk pembuluh kecambah.
  • Di dalam biakan murni, jamur membentuk oogonium, dengan Ø 25-35 µm.

Daur Hidup

  • P capsici dapat terbawa biji.
  • ­Bertahan cukup lama dalam tanah.

Pengendalian :

  1. Menanam cabai dan terung yang dengan jarak tanam yang cukup.
  2. Memberihkan gulma dan memelihara drainase.
  3. Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
  4. Jika perlu, tanaman disemprot dengan fungisida, misalnya Dithane M-45.

4. Layu Bakteri [Pseudomonas solanacearum (E.F.Sm.)E.F.Sm.]

­Akan dibahas pada pembahasan penyakit-penyakit penting pada tomat.

5. Mosaik

Gejala

  • ­Mula-mula tampak sebagai menguningnya tulang-tulang daun, atau terjadinya jalur kuning sepanjang tulang daun.
  • ­Daun menjadi belang hijau muda dan hijau tua.
  • ­Daun menjadi lebih kecil dan sempit daripada biasa.
  • ­Jika tanaman terinfeksi pada waktu masih sangat muda, tanaman terhambat pertumbuhannya dan kerdil.
  • ­Tanaman sakit menghasilkan buah yang kecil-kecil dan sering tampak berjerawat.

Penyebab Penyakit : Virus

  • ­Pada cabai : CMV, dll
  • ­Terung TRV, CMV, dll

Daur Hidup

  • CMV ditularkan secara mekanik dengan gosokan, maupun oleh kutu daun.
  • ­Bisa terdapat pada gulma disekeliling pertanaman cabai

Pengendalian :

  1. Memberantas gulma.
  2. Menangani semai-semai dengan hati-hati, sebelumnya tangan dicuci dengan cabun atau deterjen.
  3. Tanaman bergejala segera dicabut.

B. Penyakit-Penyakit Tomat

1. Busuk Daun [Phytophthora infestan (Mont.) d By]

Gejala

Pada Daun
  • Becak daun hitam kecoklatan atau keunguan mulai timbul pada anak daun, tangkai atau batang, dan bila keadaan membantu akan tumbuh dengan cepat, sehingga dapat menyebabkan kematian.
  • ­Pada becak yang meluas, bagian yang paling luar berwarna kuning pucat yang beralih ke bagian yang berwarna hijau biasa.
  • ­Pada sisi bawah daun fruktifikasi jamur yang berwarna putih seperti beludu tampak pada daerah peralihan antara pucat dan ungu.
  • ­Perkembangan bercak akan berkembang bila kelembaban nisbi rendah. Becak akan berkembangan kembali bila kelembaban meningkat.
Pada Buah
  • ­ Becak yang berwarna hijau kelabu kebasah-basahan meluas menjadi becak yang bentuk dan besarnya tidak tertentu.
  • ­Pada buah hijau becak berwarna coklat tua, agak keras dan berkerut.
  • ­Becak mempunyai batas yang cukup tegas, dan batas ini tetap berwarna hijau pada waktu bagian buah yang tidak sakit matang ke warna yang biasa.
  • ­Kadang-kadang becak mempunyai cincin-cincin.
  • Dalam pengangkutan, penyakit dapat menyebabkan busuk lunak dan beair, yang mungkin disebabkan oleh jasad sekunder.

Penyebab Penyakit : Phytophthota infestans (Mont.) d By.

  • Miselium sekunder membentuk sporangiofor pada permukaan becak.
  • ­Sporangiofor secara berturut-turut membentuk sporangium pada ujungnya yang tumbuh.
  • ­Sporangium yang disebarkan oleh angin biasanya tumbuh dengan membentuk spora kembara (zoospora), kacang-kadang tumbuh langsung dengan membentuk pembuluh kecambah.
  • ­Oospora sangat jarang dibentuk, bahkan di Indonesia belum pernah ditemukan, sehingga mungkin tidak memegang peranan dalam daur penyakit.

Daur Hidup

  • Sporangium jamur terutama disebarkan oleh angin.
  • ­ Jika jatuh pada setetes air pada tanaman yang rentan, sporangium akan mengeluarkan spora kembara (zoospora) yang dapat berenang, yang seterusnya membentuk pembuluh kecambah yang mengadakan infeksi.
  • ­Sampai sekarang belum diketahui dengan cara bagaimana Ph. Infestans pada tomat mempertahanakan diri dari musim ke musim.
  • Jamur juga dapat bertahan pada tanaman kentang dan terung yang biasanya terdapat di daerah penanam sayuran pegunungan.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­ Suhu dan Kelembaban udara

Pengendalian :

  1. Pemilihan waktu tanam
  2. Pemakaian fungisida

2. Bercak Coklat (Alternaria solani Sor.)

Gejala

Pada Daun
  • Mula-mula pada daun timbul becak-becak kecil, bulat atau bersudut, coklat tua sampai hitam, sebesar kepala jarum sampai lebih kurang 4 mm.
  • Jaringan nekrotk sering tampak seperti kulit, mempunyai lingkaran-lingkaran sepusat.
  • Di sekitar becak nekrotik biasanya terdapat jalur klorotik (halo) sempit.
  • Jika pada daun terdapat banyak becak, daun akan cepat menjadi tua, layu atau gugur sebelum waktunya.
Pada Batang
  • Terjadinya becak gelap yang mempunyai lingkaran-lingkaran sepusat.
  • Jika infeksi terjadi dekat percabangan, cabang akan mudha patah jika buah-buah membesar.
Pada Semai / bibit
  • Menyebabkan busuk pangkal batang.
  • Infeksi terjadi setinggi permukaan tanah, meluas ke bagian bawah dan atas, dan membentuk kanker yang melingkari pangkal batang.
Pada Buah
  • Buah dapat terinfeksi pada waktu masih hijau ataupun sudah masak.
  • Pada buah terjadi becak coklat gelap atau hitam, biasanya tampak mengendap (berlekuk), yang dapat meluas ke seluruh permukaan buah.
  • Jaringan sakit tampak seperti kulit dan sapat membentuk massa hitam seperti beludru yang terdiri dari spora jamur pada permukaannya.
  • Biasanya infeksi terjadi didekat tangkai, melalui luka karena pertumbuhan atau luka-luka lain.

Penyebab Penyakit : Alternaria solani Sor.

  • Miselium berwarna gelap.
  • ­Konidiofor keluar dari jaringan tanaman yang sakit, berwarna gelap dan relatif pendek.
  • Konidium berparuh, berbentuk buah murbey, gelap, sendiri atau membentuk rantai dua-dua. Rata-rata ukurannya 200 x 17 µm.

Daur Hidup

  • ­Dari musim ke musim bertahan pada tanaman yang sakit, pada sisa-sisa tanaman sakit atau pada biji.
  • ­ Konidium mudah terlepas dan disebarkan oleh angin dan juga kumbang-kumbang.

Faktor2 Yang Mempengaruhi

  • ­Konidium berkecambah pada suhu 6-34oC. Suhu optimumnya 28-30oC. Dalam air pada suhu ini sudah berkecambah dalam 35-45 menit.
  • ­Faktor tanah maupun cuaca yang dapat melemahkan tanaman.
  • ­Tanaman yang berbuah banyak cenderung lebih rentan.

Pengendalian :

  1. Pemberian pupuk yang seimbang agar tanaman lebih tahan.
  2. Desinfeksi biji.
  3. Fungisida karbamat.

3. Layu Fusarium (Fusarium oxysporium f.sp. lycopersici)

Gejala

  • ­Gejala pertama adalah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai, dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan.
  • ­Kadang-kadang kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun2 sebelah bawah.
  • ­Tanaman menjadi kerdil dan merana tumbuhnya.
  • ­Jika tanaman sakit dipotong dekat pangkal batang atau dikelupas dengan kuku atau pisau akan terlihat cincin coklat dari berkas pembuluh.
  • ­Pada tanaman yang masih muda, penyakit dapat menyebabkan tanaman mati mendadak.
Penyebab Penyakit : Fusarium oxysporium (Schlecht) f.sp. lycopersici (Sacc.)Snyd et Hand]
  • Miselium bersekat dan dapat tumbuh dengan baik pada bermacam-macam medium agar yang mengandung ekstrak sayuran.
  • Mula-mula miselium tidak berwarna, semakin tua warna menjadi krem, akhirnya koloni tampak mempunyai benang-benang berwarna oker.
  • Pada miselium yang lebih tua terbentuk klamidospora.
  • Jamur membentuk makrokonidium bersel, tidak berwarna, lonjong atau bulat telur, 6-15 x 2,5-4 µm.
  • Makrokonidium lebih jarang terdapat, berbentuk kumparan, tidak berwarna, kebanyakan bersekat dua atau tiga, berukuran 25-33 x 3,5-5,5 µm.
  • Fox f.sp lycopersici mempunyai banyak ras fisiologi (ex. Ras 1 dan ras 0) dan 2 galur (galur putih dan ungu).
Sehingga mempersulit usaha untuk memperoleh jenis tomat yang tahan.

Daur Hidup

­ Dapat bertahan dalam tanah.
  • Jamur mengadakan infeksi pada akar, terutama melalui luka-luka, lalu menetap dan berkembang di berkas pembuluh.
  • Pengankutan air dan hara terganggu menyebabkan tanaman menjadi layu.
  • Jamur menghasilkan likomarasmin ® menghambat permeabilitas membram plasma.
  • Sesudah jaringan pembuluh mati, pada waktu udara lembab jamur akan membentuk spora yang berwarna ungu pada akar yang terinfeksi.
  • ­Jamur dapat memakai bermacam luka untuk jalan infeksi.
  • ­Jamur dapat tersebar karena pengangkutan bibit, tanah yang terbawa angin atau air, atau oleh alat pertanian.

Faktor yang mempengaruhi :

  • ­Penyakit berkembang pada suhu tanah 21-33 oC. Suhu optimum 28 oC.
  • ­Kelembaban tanah yang membentu tanaman, ternyata juga membantu perkembangan penyakit.
  • ­Penyakit akan lebih berat bila tanah mengandung banyak nitrogen tetapi miskin kalium.

Pengendalian :

  1. Penanaman jenis tomat yang tahan (ex. Ohio MR 9 dan Walter).
  2. Fungisida tidak memberikan hasil yang memuaskan, tetapi pencelupan akar dgn benomyl memberikan hasil yang baik.
  3. Penggunaan mulsa

4. Layu Bakteri [Pseudomonas solanacearum (E.F.Sm.)E.F.Sm.]

Gejala

  • Gejala permulaan adalah layunya beberapa daun muda atau menguningnya daun-daun tua (daun-daun sebelah bawah).
  • ­Batang tanaman cenderung membentuk lebih banyak akar adventif sampai setinggi bunga.
  • ­Jika batang, cabang atau tangkai daun tanaman sakit dibelah, tampak berkas pembuluh berwarna kecoklatan.
  • ­Pada stadium penyakit lanjut, bila batang dipoting, dari berkas pembuluh akan keluar massa bakteri seperti lendir berwarna putih susu Þ dapat dibedakan dgn layu Fox.

Penyebab Penyakit : Pseudomonas solanacearum (E.F.Sm.)E.F.Sm

  • Bakteri berbentuk batang, 0,5 x 1,5 µm, tidak berspora, tidak berkapsula, bergerak dengan satu bulu cambuk, polar, aerob, gram negatif.
  • ­Koloni di atas medium agar keruh, berwarna kecoklatan, kecil, tida teratur, halus, mengkilat, kebasah-basahan.

Daur Hidup

  • ­Bakteri mengadakan infeksi melalui luka, termasuk luka karena nematoda.
  • Bakteri dan namatoda berinteraksi sinergistik


  • Bakteri dapat bertahan pada banyak tanaman pertanian (ex. Tembakau, cabai, kentang, dan kacang-kacangan).
  • ­Pupuk kandang yang baru (belum masak) dapat membawa bakteri ke ladang

Faktor yang mempengaruhi :

  • ­ Penyakit dibantu oleh suhu yang relatif tinggi, sehingga penyakit didataran rendah lebih berat.

Pengendalian :

  1. Pergiliran tanaman.
  2. Penyambungan : Pada batang bawah yang tahan.
  3. Antibiotik streptomycin.
  4. Menanam jenis tomat yang tahan.

5. Penyakit Mosaik Tembakau (Marmor tabaci Holmes.)

Gejala

  • ­ Pada daun terjadi becak-becak hijau muda atau kuning yang tidak teratur.
  • ­Bagian yang berwarna muda tidak dapat berkembang secepat hijau yang biasa, sehingga daun menjadi berkerut atau terpuntir.
  • ­Jika semai terinfeksi segera setelah muncul, semai dapat mati.
  • Jika tanaman terinfeksi setelah dewasa, pengaruhnya dapat lemah sekali.
  • Infeksi mosaik pada mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun jika tanaman terinfeksi sejak awal, buah hanya kecil, bentuknya menyimpang dan pada dinding buah mungkin terdapat becak-becak nekrotik.
  • ­Jika mosaik tembakau dan mosaik ketimun mengadakan infeksi bersama-sama, pada batang dan buah akan terjadi garis-garis hitam yang teridir dari jaringan mati.

Penyebab Penyakit : virus Mamor tabaci Holmes, yang disebut juga Nicotiana virus 1

(Mayer) Smith.


Sampai sekarang dikenal dengan nama virus mosaik tembakau (tobacco )
  • Titik inaktivasi pemanasan 94oC, titik pengenceran terakhir 1 : 1.000.000. Dalam daun tembakau virus bertahan sampai puluhan tahun.

Daur Hidup

  • Virus menular dari tanaman ke tanaman secara mekanik, oleh tangan pekerja, ternak, atau alat-alat pertanian.
  • ­Virus tidak ditularkan oleh serangga.
  • ­Virus dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit dalam tanah sampai 4 bulan.
  • ­Virus dapat bertahan dari tahun ke tahun pada gulma famili Solanaceae.

Pengendalian :

  1. Tidak merokok selama bekerja di pertanaman tomat, terutama pada waktu pembibitan dan memindahkan tanaman.
  2. Penyiangan
  3. Pada waktu memanjatkan dan memangkas tanaman dilakukan dengan tidak terlalu banyak dipegang dan tidak dipegang dengan keras.

6. Penyakit Mosaik Ketimun (Marmor cucumeris var. vulgare Holmes.)

Gejala

  • ­Daun cenderung menjadi sempit, bahkan kadang-kadang menjadi seperti tali (shoestring, tali sepatu).
  • Daun juga mengeriting dan berwarna hijau muda.
  • ­Buah lebih kecil dari biasanya. Sering pembentukan buah pada bagian puncak batang terhambat.

Penyebab Penyakit : Marmor cucumeris var. vulgare Holmes atau Cucumis virus 1.

  • Sampai sekarang dikenal dengan nama virus mosaik ketimun (cucumber mosaic virus, cucumovirus = CMV).

Daur Hidup

  • Virus dapat menular secara mekanis, beberapa kutu daun (ex. Myzus persicae, Aphis gossypii, A. fabae dan A. maidis)
  • ­Mempunyai banyak tanaman inang dari banyak famili [ex. Ketimun (Cucirbitaceae), sawian (Cruciferae), terungan (Solanaceae) dan kacangan (Papilionaceae)].

Pengendalian :

  1. Persemaian harus bebas dari gulma dan kutu daun.
  2. Pencabutan tanaman sakit.
  3. mencuci tangan dengan sabun setelah memegang tomat atau gulma yang mungkin mengandung virus.
  4. Tidak menanam tanman yang dapat menjadi sumber virus (ex. Famili yang sama) didekat pertanaman tomat.
  5. Pengendalian gulma di pertanaman tomat.
»»  Baca Selengkapnya...